Viral Awan Tsunami di Pekalongan, Begini Penjelasan BMKG

  • Bagikan

KAJEN – Fenomena awan berbentuk mirip gelombang tsunami terjadi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah pada Sabtu (3/4/2021) hari ini.

Foto awan berbentuk gelombang air laut tersebut pun langsung viral setelah diunggah di media sosial.

Di sebuah akun terlihat beberapa postingan fenomena alam awan yang terjadi di Pekalongan.

Posting tersebut diberikan caption ‘Langit pagi ini min… Angin e juga Mayan lumayan kenceng kie…
Jrebengkembang, Karangdadap. via @indahka93.

Jafar (28) warga Kuripan mengatakan, kejadian ini baru pertama kali di Pekalongan.

“Kejadiannya itu sekitar pukul 08.00 Wib, seketika suasana menjadi agak gelap terus lihat langit awanya mirip gelombang air laut yang besar,” kata Jafar.

Ia mengungkapkan, awan tersebut berjalan dari arah barat laut ke arah timur tenggara.
“Peristiwa itu berlangsung sekitar 30 menit,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Ibin warga Kertijayan, Kecamatan Buaran awan yang panjang tersebut terlihat di area persawahan dan menyelimuti langit Pekalongan.

“Fenomena alam ini baru pertama kali di Pekalongan dan berlangsung sekitar 20 menit,” katanya.

Prakirawan cuaca Stasiun Meteorologi Tegal Sayful Amri mengatakan, fenomena alam awan yang terjadi di Pekalongan itu bernama awan Arcus.

“Awan yang menyerupai gelombang tsunami ini lazim dikenal di bidang meteorologi sebagai awan Arcus. Awan ini tidak ada kaitannya dengan pertanda gempa bumi dan tsunami atau hal-hal mistis, tetapi murni karena adanya dinamika atmosfer tertentu,” kata Sayful.

Pada saat ini wilayah Pekalongan dan sekitarnya berada pada musim transisi (pancaroba), ditandai dengan mulai aktifnya monsun Australia yang menyebabkan pola angin baratan menjadi timuran. Hal ini memicu terjadinya monsoon trough di wilayah Jawa.

Selain itu adanya konveksi dari Madden Jullian Oscillation, Gelombang Kelvin dan Rossby Ekuator di wilayah Jawa meningkatkan potensi terbentuknya awan-awan konvektif di wilayah Jawa termasuk Pekalongan dan sekitarnya.

“Awan Arcus terbentuk karena adanya ketidakstabilan atmosfer yang disebabkan oleh adanya pertemuan massa udara dingin dengan massa udara hangat. Massa udara hangat yang sifatnya lebih ringan ini, terangkat ke atas dan memicu terbentuknya awan arcus yang polanya memanjang menyerupai gelombang tsunami,” imbuhnya.

Pihaknya menuturkan, awan ini biasanya bergerak dengan kecepatan tertentu dan menimbulkan hujan lebat disertai petir dan angin kencang atau bahkan hujan es di wilayah yang dilaluinya, sehingga relatif singkat kejadiannya.

“Awan ini relatif jarang terjadi, namun di wilayah seperti Makasar, Pangkalan bun, dan Meulaboh sudah beberapa kali terjadi fenomena tersebut,” tuturnya.

Dirinya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik, namun tetap waspada dengan dampak dari awan tersebut, seperti menghindari berteduh di bawah pohon saat terjadi fenomena tersebut.

“Masyarakat juga dapat memantau perkembangan info cuaca dari BMKG seperti aplikasi android atau IOS info BMKG atau website,” tambahnya dikutip tribunjateng,com.

 

  • Bagikan