UIN Gus Dur Pekalongan Butuh Dukungan Sarpras Rp 150 Miliar

KAJEN– Universitas Islam Negeri (UIN) K. H. Abdurahman Wahid Pekalongan, membutuhkan dukungan anggaran sarana dan prasarana sebesar Rp 150 miliar. Demikian disampaikan Rektor UIN KH. Abdurrahman Wahid, Prof. Dr. H. Zaenal Mustakim, M.Ag, saat ada kunjungan Menteri Agama RI H Yaqut Cholil Qoumas.

“Kami setidaknya membutuhkan dukungan sarpras, tidak banyak yakni hanya Rp 150 miliar saja. Berkenan kepada gus menteri untuk melaunching UIN KH. Abdurrahman Wahid,” kata dia.

Dalam kunjungan Menteri Agama RI ini, dirinya juga mengucapkan selamat datang di Kampus UIN Pekalongan, yang masih berumur 3,5 bulan kali ini.

“Mengapa UIN Pekalongan KH Abdurahman Wahid. Nama tersebut atas usulan Gus Menteri. Nama itulah yang menyatukan kita semua, dengan nama besar membawa konsekuensi dan harapan,” kata dia.

Menurutnya, dengan adanya hal ini kita semua harus memantaskan diri dengan belajar dan belajar. Bekerja yang luar biasa, Insyallah UIN akan bekerja luar biasa. Meneladani nilai yang diteladani Gus Dur 9 (sembilan) nilai harus dikembangkan dalam kehidupan akademik maupun di luar akademik,” tuturnya.

Dirinya berharap lewat launching kali ini, jajarannya bisa bekerja lebih maksimal membuat karya lokal maupun dunia. Agar UIN yang kosmopolitan yang memadukan agama dan sains serta UIN yang terbuka terhadap perubahan, serta progresif inovatif dan berkarya lebih baik

“UIN K. H. Abdurahman Wahid Pekalongan diharapkan berkontribusi sebagai kampus peradaban Islam,” ucapnya.
Perwakilan Keluarga Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid mengatakan, dirnya kedua kali ini hadir ke Pekalongan yang pada bulan lalu temannya meluncuran buku di UIN .

“Terimakasih Gus Menteri yang mengusulkan nama KH Abdurahman Wahid dan disambut dengan baik. Dengan pengguna nama KH Abdurrahman Wahid akan membawa dampak tertentu untuk itu harus memantaskan kerjaan,” kata dia.

Untuk apa penggunaan nama KH Abdurahman Wahid. Dengan pengguna nama tersebut akan muncul penggerak demokrasi setiap identitas yang sangat penting dibutuhkan pada perbedaan.

“Masa depan itu eklusivitas dan eklusivitas adalah masa depan,” tandasnya.

Sementara itu, Menteri Agama RI, H Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, permintaan rektor agar dipenuhi sebisanya.
“Kenapa harus K.H Abdurrahman Wahid, karena beliau mendidik mahasiswa menjadi humanis memanusiakan manusia lainnya,” katanya.

Semua civitas akademik, dirinya meminta untuk menteladani nilai-nilai gus dur yaitu kasih sayang dan manusiawi. Ajarkan kasihsayang agar mampu memanusiakan manusia lain dengan kasih sayang

“Saya harap ini benar-benar menjadi catatan penting bagi kita. Bukan asal asal memberikan nama supaya setelah mahasiswa keluar dari UIN agar bisa memanusiakan manusia lain,” jelas dia.

Menurutnya, sudah menjadi kewajiban pendidik untuk mendidik mahasiswa agar lebih meneladani nilai-nilai Gus Dur.

“Mudah-mudahan dengan disetujuinya nama K.H Abdurrahman Wahid oleh keluarga semoga spirit beliau perjuangan. Bismillahirahamihkm UIN K.H Abdurrahman Wahid saya resmikan,” tandasnya. (Pekalonganberita.com)