Rata-Rata Kasus KDRT Di Kabupaten Pekalongan Dilatarbelakangi Masalah Ekonomi

  • Bagikan

Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa , Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinas PMD P3A DAN PPKB) Kabupaten Pekalongan mencatat pada Bulan Januari sampai Maret 2021 ada 7 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terjadi di Kota Santri.

Kebanyakan kasus KDRT tersebut dilatarbelakangi oleh masalah ekonomi dan perselingkuhan.

Demikian disampaikan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Cicih Eko Atmawati di kantornya, Kamis (22/4/2021).

“biasanya yang melaporkan korban sendiri atau keluarga korban, karena kalau tetangga merasa tidak enak jika melaporkan kasus KDRT, meski ada juga yang melaporkan ke kami,” katanya.

Untuk pusat pengaduan, lanjutnya, Dinas PMD P3A DAN PPKB menyediakan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A).

“korban atau keluarga korban bisa melaporkan kesini, selain bisa melapor ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) di Polres Pekalongan. Selain itu kita juga pengaduan ditingkat kecamatan,” terang Cicih.

Selain tindak kekerasan pada perempuan, pihaknya juga mencatat kasus kekerasan anak pada rentang Januari-Maret 2021 sebanyak 5 kasus.

“pada tahun 2020 tercatat ada 8 kasus kekerasan fisik, 16 kasus KDRT, 10 kekerasan psikis, 14 kekerasan seksual, dan 4 kasus eksploitasi anak, jumlahnya ada 54 kasus,”

“sedang pada tahun 2019,ada 54 kasus, dan tahun 2018 ada 37 kasus. Dengan korban pelecehan seksual rata-rata korbannya adalah anak-anak,” ujarnya.

Semua kasus tersebut, tambahnya, semua ditangani dan ditindak lanjuti, termasuk kasus pelecehan seksual ditindaklanjuti oleh polres.

“khusus untuk pelecehan seksual, kita mempunyai psikolog untuk pendampingan, karena ketika anak-anak terjadi pelecehan seksual butuh didampingi kejiwaanya,” paparnya.

Untuk menghindari kasus kekerasan dana pelecehan terhadap anak, dirinya menghimbau kepada orang tua untuk menyeleksi atau memperhatikan anaknya, dengan siapa dia berteman, dan memeriksa isi gadgetnya.

“selain itu juga diperlukan pendekatan secara keagamaan. Dengan keimanan yang cukup, maraknya medsos tidak menjadikan anak berbuat negatif,” jelas Cicih.

 

  • Bagikan