PPKM Darurat, 22 Napi Rutan Kelas IIB Rowobelang Batang Diasimilasi di Rumah

  • Bagikan

BATANG – Sebanyak 22 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Ritan Kelas IIB Batang mendapatkan asimilasi.

Mereka diberikan kesempatan untuk asimilasi di rumah, sebagai langkah untuk menekan dan meminimalisasi penyebaran Covid-19.

Hal itu berdasarkan Keputusan Menteri Hukum dan HAM, Nomor 24 Tahun 2021.

Keputusan tersebut diambil sebagai wujud kepedulian Kementerian Hukum dan HAM terhadap penanganan virus tersebut, melalui langkah asimilasi.

Kepala Rutan Batang Rindra Wardhana mengatakan semua harus bekerja sama antara pengadilan, kejaksaan dan pihak terkait lainnya, dengan memberikan penguatan-penguatan terhadap 22 WBP yang diberikan kesempatan asimilasi di rumah.

“Mereka yang dua pertiga masa pidananya sebelum 31 Desember, bukan pelaku kejahatan yang meresahkan masyarakat seperti pembunuhan berencana, kejahatan pada anak, pencurian dengan kekerasan, tindak asusila dan residivis,” terangnya, Kamis (15/7/2021).

Dijelaskan Rindra, pemberian asimilasi ini upaya untuk menjadikan pribadi yang mandiri dan menekan penyebaran Covid-19 yang luar biasa cepatnya.

“Salah satu yang membuat penyebaran virus karena kapasitas yang berlebih. Jadi asimilasi ini untuk menekan angka penyebaran virus, dengan memperhatikan regulasi dan perkembangan situasi,” ujarnya.

Ia memastikan, mereka diwajibkan melaporkan diri ke perangkat desa setempat sebelum sampai di rumah.

“Pihak pemerintah desa akan mengarahkan hal-hal yang harus dilakukan karena sudah jadi bagian dari masyarakat kalau memang harus isolasi mandiri 14 hari ya harus dipatuhi,” jelasnya.

Saat menjalani asimilasi di rumah lanjut dia mereka pun tetap memiliki kewajiban untuk lapor secara virtual.

Mereka yang kurang piawai menggunakan gawai, akan didata untuk mendapatkan sarana khusus.
“Kami juga berkoordinasi dengan aparat desa agar ikut memberikan pengawasan kepada penerima asimilasi, sehingga lingkungan sekitar tetap aman dan terkendali,” imbuhnya.

Sementara salah satu WBP penerima asimilasi, Edi Sutiawan mengutarakan, dirinya bahagia mendapat kesempatan untuk menjalani asimilasi di rumah.

“Saya senang akhirnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga, meskipun harus menjalani cek kesehatan melapor ke perangkat desa karena Covid-19 belum usai,” ujar pria yang pernah tersandung kasus narkoba itu.

Ia menyatakan, siap untuk melaksanakan wajib lapor secara virtual. Data dan nomor ponsel juga sudah terdata di pihak Rutan.

“Saya bersyukur bisa dapat asimilasi. Pokoknya saya tidak mau mengulangi perbuatan yang sama, karena malu pada Allah dan diri sendiri mas,” pungkasnya.(din/tribunjateng)

 

  • Bagikan