Mudik Merupakan Budaya, Larangan Mudik Perlu Sosialisasi Masif

  • Bagikan

Mudik merupakan salah satu kebiasaan masyarakat, khususnya masyarakat Islam di Indonesia yang mereka lakukan setiap Hari Raya Idul Fitri, untuk itu pelarangan mudik diperlukan sosialisasi dan himbaun masif yang dilakukan oleh beberapa unsur.

Demikian disampaikan oleh Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan Hindun, Senin (10/5/2021). Menurutnya setiap mereka melakukan mudik biasanya juga mereka melakukan silaturahmi dan halal bi halal dengan keluarga.

“untuk itu pelarangan mudik perlu melibatkan tokoh agama dan tokoh masyarakat, sehingga masyarakat akan lebih mantap untuk menunda mudik,” katanya.

Di Kabupaten Pekalongan sendiri, lanjutnya, sebelum larangan mudik diberlakukan yakni tanggal 6 Mei kemarin, sudah banyak warga yang pulang kampung.

“disini diharapkan PPKM yang ada di desa bisa memantau masyarakatnya yang pulang kampung, dan menerapkan prokes yang ketat sehingga bisa meminimalisir penularan covid 19,” tutur Hindun.

Menurutnya dengan tidk mudik maka masyarakat akan lebih aman, karena biasanya saat mudik bersentuhan dengan khalayak ramai.

“dengan tidak mudik akan menjaga keluarga di rumah masing-masing,” paparnya.

Seperti yang diketahui bersama, pelarangan mudik dri pemerintah di berlakukan mulai 6 hingga 17 Mei 2021 dan diperpanjang dari 22 April hingga 27 Mei.

“untuk itu saya harap masyarakat Kota Santri yang berada di luar kota seperti Jakarta, Jogja dan kota-koa lain untuk bisa menunda mudiknya, demi untuk menjaga keluarga di rumah,” harapnya.

 

  • Bagikan