Jagung Kentang Disulap Jadi Jenang dan Mustofa

  • Bagikan

Kota Pekalongan – Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kota Pekalongan bekerjasama dengan Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) setempat menggelar Pelatihan Olahan Pangan Berbahan Baku Jagung dan Kentang selama dua hari mulai 30-31 Maret, bertempat di Aula Dinperpa setempat. Pelatihan tersebut digelar untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat khususnya kader PKK dalam penaganekaragaman konsumsi pangan.

Ketua TP PKK Kota Pekalongan, Hj Inggit Soraya SSn mengatakan bahwa bahan baku jagung dan kentang dipilih, sebab jenis pangan lokal yang mudah didapat, terjangkau dan banyak dijumpai di wilayah Kota Pekalongan. Selain itu, proses pembuatan dengan bahan pangan lokal cukup mudah dan tidak membutuhkan alat yang banyak. Sehingga dapat membuat olahan pangan yang mudah dan bisa di produksi sendiri ataupun dijual sehingga dapat menambah pendapatan keluarga.

“Dari bahan pangan lokal ini yakni jagung dan kentang, diolah menjadi produk yang lebih bermanfaat terpenuhi 3B yakni beragam, bergizi, dan berimbang,” ungkap Inggit dikutip Dinkominfo Kota Pekalongan.

Lebih lanjut, bahan baku tersebut diolah menjadi Jenang Jagung dan Kentang Mustofa. Ia berpesan, usai pelatihan para kader PKK dapat mempratikannya dirumah dan lingkungan sekitar.

“Dengan adanya pelatihan ini peserta tidak hanya mendapatkan ilmu namun juga bisa mengimplementasikannya di rumah, lebih bekreasi, dan bisa berinovasi menciptakan berbagai macam olahan makanan lain dari pangan lokal. Misalnya bahan baku jagung dibuat menjadi keripik, pudding ataupun jenang seperti yang diterapkan saat ini,” imbuhnya.

Ditambahkan oleh Kepala Dinperpa setempat, Zainul Hakim SH MHum, karena masih dalam suasana pandemi Covid-19, kegiatan dilakukan bertahap selama dua hari. Dimana hari pertama (30/3) menyasar kader PKK se-kecamatan Pekalongan Utara dan Pekalongan Timur. Sedangkan hari kedua (31/3) para kader PKK se-kecamatan Pekalongan Selatan dan Barat.

“Harapannya peserta bisa mengembangkan olahan pangan paling tidak untuk kebutuhan di rumah tangganya. Lebih luas lagi, bisa menularkan ilmu yang didapatkan ke lingkungan sekitar. Pangan lokal tidak hanya memenuhi kecukupan gizi yang seimbang namun ke depan bisa dikembangkan menjadi aneka kuliner lain yang lebih inovatif dan bernilai jual,” katanya. (pekalonganberita.com)

  • Bagikan