Hari Pertama Masuk Kerja Usai Lebaran, Walikota Singgung Tradisi Lopis Dan Mercon

  • Bagikan

Kota Pekalongan – Hari pertama masuk kerja usai libur lebaran Idul Fitri 1442 Hijriyah, Walikota Pekalongan,HA Afzan Arslan Djunaid,SE kembali mengingatkan dan menekankan kepada para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Pekalongan mengenai kebijakan-kebijakan yang harus dilakukan di masa pandemi Covid-19.

Beberapa kebijakan tersebut diantaranya himbauan larangan petasan (mercon), himbauan sholat Idul Fitri kemarin di rumah saja, peniadaan tradisi Lopis raksasa dan larangan penerbangan balon udara liar pada saat momentum Syawalan atau H+7 lebaran Idul Fitri. Hal ini disampaikan Walikota Pekalongan,HA Afzan Arslan Djunaid,SE saat memimpin apel luar biasa dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat, bertempat di Halaman Setda Kota Pekalongan,Senin(17/5/2021).

“ Alhamdulillah ini pada hari pertama masuk kerja usai masa Lebaran Idul Fitri ini, kami menekan kan kepada semua para ASN untuk kebijakan-kebijakan yang harus dilakukan di masa pandemi, termasuk menghadapi akhir Ramadhan kemarin dan masa libur lebaran diantaranya beberapa kegiatan atau tradisi yang sudah dilakukan maupun rutin diadakan oleh masyarakat Kota Pekalongan,”tutur Aaf,sapaan akrabnya.

Aaf menyebutkan, kebijakan pertama yakni tradisi sholat Ied pada Perayaan Idul Fitri kemarin dihimbau untuk tidak dilakukan di masjid maupun lapangan,dan dilaksanakan secara mandiri bersama keluarga di rumah masing-masing.

Meski demikian, tetapi masih banyak warga yang melakukan hal tersebut. Menurutnya, hal itu tidak menjadi masalah bilamana tetap berpedoman pada protokol kesehatan secara ketat. Selanjutnya,kebijakan kedua yaitu larangan menyalakan petasan (mercon) yang tidak boleh dilakukan selama Ramadhan maupun momen Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriyah.

Namun, fakta di lapangan, ternyata masih banyak warga yang menyalakan petasan (mercon) usai sholat Ied yang tentu sangat membahayakan diri sendiri maupun oranglain disekitarnya.

“Padahal petasan ini sudah beberapa kali memakan korban meninggal dunia,tetapi itu tidak menjadikan warga jera dan lebih berhati-hati. Disamping itu, terkait tradisi lopis raksasa dengan berat hati kembali tidak diadakan pada momentum Syawalan tahun 2021 ini karena pertimbangan saat ini era pandemi Covid-19 belum usai.

Namun dibalik itu semua, ada hikmahnya dimana menurut warga Krapyak dan sekitarnya yang menjadi pioneer tradisi lopisan, lopis yang dibuat warga sekitar dan dijajakan di pinggir jalan menjadi laris manis, hal ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi mereka,”ungkapnya.

Lebih lanjut, Aaf menjelaskan, larangan balon udara yang diterbangkan secara bebas juga terus dipertegas. Mengingat, meski sudah dilarang,masih ada saja balon udara liar yang terbang bebas di udara, bahkan puncaknya nanti diperkirakan pada saat momentum Syawalan atau H+7 Lebaran Idul Fitri 1442 Hijriyah.

Hal ini tentu menjadi perhatian bersama dan perlunya peningkatan peran dari beberapa pihak terkait baik perangkat kelurahan,kecamatan, ASN, dan komunitas balon udara itu sendiri untuk menjadi spion dalam mengawasi warganya yang sudah maupun akan menerbangkan balon udara.

“Iini harus diantisipasi sejak dini walaupun pada saat ini dilarang mudik,lalu lintas udara juga tidak sepadat seperti biasanya,namun itu bukan menjadi alasan warga boleh menerbangkan balon udara karena tentu hal ini sangat berbahaya bagi warga sekitar dan diri sendiri,jika balon udara tersebut jatuh ke rumah warga dan ada petasan didalamnya tentu bisa menyebabkan celaka maupun kebakaran dan lain sebagainya. Hari pertama masuk kerja usai lebaran ini juga mudah-mudahan menjadi penyemangat para ASN dan kita semua untuk bisa bekerja lebih giat lagi,”pungkasnya.

  • Bagikan