Cegah Perkembangan Corona, Pemkab Pekalongan Akan Clasterkan Daerah

  • Whatsapp

KAJEN – Guna mencegah perkembangan corona atau covid19 di Kabupaten Pekalongan, Pemkab Pekalongan akan mengklasterkan daerah mana saja di wilayahnya yang masuk zona hijau, kuning maupun merah. Demikian disampaikan Bupati Pekalongan Asip Kholbihi.

Ia mengatakan, pemetaan ini dilakukan secara dinamis disesuaikan dengan perkembangan kondisi daerah yang ada yang sewaktu-waktu bisa berubah. “Nanti Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan akan merincinya dengan detail,” ucapnya.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, dengan adanya klaster ini masyarakat bisa lebih waspada dan berhati-hati melihat perkembangan situasi di daerahnya. “Adanya hal ini juga akan menjadi acuan pelaksanaan aktivitas masyarakat,” paparnya.

Pada kesempatan ini, pihaknya mengucapkan terimakasih kepada organisasi NU Kabupaten Pekalongan yang telah memberikan panduan pelaksanaan ibadah dan amaliah pada bulan Ramadan 1441 H atau disaat pendemi covid19.

“Intinya agar tidak terjadi miss komunikasi di masyarakat karena pihaknya juga telah mengeluarkan maklumat bagaimana umat beragama dalam menyikapi covid19 utamannya pada bulan Ramadan,” tuturnya.

Dari rekomendasi yang diberikan ada beberapa titik temu yang bisa dilaksanakan bersama-sama. Untuk Pemkab Pekalongan akan memetakan secara rinci daerah-daerah mana yang masuk klaster zona hijau, kuning dan merah.

“Kami juga berterimakasih kepada NU yang telah memberikan panduan dimana saja yang masih bisa melakukan kegiatan keagamaan atau jumatan dan yang tidak diperbolehkan secara fiqih untuk menggelar. Hal tersebut supaya tidak terjadi salah persepsi di akar rumput masyarakat, antara pendekatan sains yang dilakukan pemerintah dengan pendekatan yang dilakukan secara syar’iyyah,” katanya.

Intinya hal ini dilakukan untuk melindungi Kabupaten Pekalongan, nanti juga tatanannya akan disesuaikan dengan kondisi daerah.

“Kalau daerahnya benar-benar hijau 100 persen tidak ada OTG, PDP atau ODP hingga suspeck maka akan dikembalikan dengan kearifan lokal. Tapi kalau ada masjid yang memungkinkan didatangi musafir dari berbagai daerah, kemudian tidak memiliki kemampuan untuk menjaga lebih baik Jumatan ditiadakan seperti yang dilakukan di Masjid Al-Mukhtarom Kajen ini,” tandasnya. (Pekalonganberita,com)

Pos terkait