Banyak Istri Gugat Suami, Angka Perceraian Tinggi

  • Bagikan

KAJEN- Selama pandemi Covid19, banyak keluarga tidak harmonis. Pertengkaran dan perselisihan antara suami istri kerap terjadi hingga berujung ke proses perceraian. Berdasarkan data di Pengadian Agama Kajen, selama tahun 2020 alasan permohonan perceraian didominasi adanya perselisihan dan pertengkaran terus menerus di keluarga.

Dari 2.067 perkara perceraian yang masuk di PA kelas 1B Kajen, 1.100 permohonan cerai disebabkan adanya perselisihan dan pertengkaran terus menerus. Faktor kedua pemicu perceraian adalah meinggalkan salah satu pihak sebanyak 470 kasus.

Sementara alasan ekonomi menjadi pemicu ketiga proses perceraian di Kota Santri sebanyak 243 kasus. Sedangkan faktor lainnya yaitu kawin paksa 2 kasus, cacat badan 3 kasus, penjara 1 kasus, judi 2 kasus dan mandat 2 kasus.

Panitera Pengadilan Agama Kajen Tokhidin menerangkan, selama tahun 2020 ada 2.067 perkara perceraian. Dengan rincian, cerai talak atau pihak suami yang mengajukan gugatan cerai sebanyak 435 perkara, dan cerai gugat atau perceraian yang diajukan pihak perempuan ada 1.632 kasus. Dari data ini tampak banyak istri justru menggugat suaminya.

Menurutnya, ada beberapa faktor pemicu proses perceraian. Diantaranya, mandat, judi, meninggalkan salah satu pihak, dihukum penjara, cacat badan, perselisihan dan pertengkaran terus menerus, kawin paksa hingga persoalan ekonomi.

“Faktor penyebab terbanyak terjadinya perceraian adalah perselisihan dan pertengkaran terus menerus, disusul meninggalkan salah satu pihak dan faktor ekonomi,” terang dia.

Faktor perceraian diperkirakan akan tetap tinggi di tahun 2021 ini. Di triwulan pertama saja tercatat sudah ada 553 pendaftar sidang perceraian. Namun di tahun ini pemicu perceraian sebagian besar akibat persoalan ekonomi.

“Kasus perceraian di tiga bulan pertama tahun 2021 sejauh ini paling banyak masalah yang dimunculkan adalah karena faktor ekonomi,” ujar dia. (had/radarpekalongan)

  • Bagikan